Filosofi Tata Ruang Kota Yogyakarta
Ditulis oleh Mas Moe
Kraton Yogyakarta yang merupakan cikal bakal kota Yogyakarta didirikan oleh R.M. Sujono, yang bergelar P.Mangkubumi, yang kemudian jumeneng nata (menjadi raja) dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono pada tahanun 1756 atau tahun Jawa 1682.
Pembangunan ini ditandai dengan condrosengkolo memet dipintu gerbang Kemagangan da dipintu gerbang Gedung Mlati, berupa dua ekor naga berlilitan satu sama lainnya. Dalam bahasa Jawa “Dwi naga rasa tunggalâ€, Artinya: Dwi = 2, naga = 8, rasa = 6, tunggal =1. Dibaca dari belakang menjadi 1682.

Secara Umum Karaton Yogyakarta adalah bagian dari mata Rantai kesinambungan pembangunan karaton-karaton di Jawa sehingga terdapat satu keterkaitan Tipologis yang mengaitkan Karaton Yogyakarta dengan tata Fisik Karaton Jawa sebelumnya bahkan pada skala yang lebih makro terdapat kaitan tipologis dengan istana-istana di Asia Tenggara dari kurun sebelumnya. Kesamaam tipologi ini terjadi karena latar belakang presepsi kosmologi yang sama, mewarisi tradisi Hindu tentang Jagad Purana yang berpusat pada suatu benua bundar Jambudwipa yang dikelilingi tujuan lapis daratan dan samudera. Pada Benua terdapat gunung Mahameru tempat para dewa bersemayam.
Bergabung bersama TDA Jogja