Jumat, 30 Juli 2010
   
TEXT_SIZE

Site Search powered by Ajax

Kearifan Jawa

Filosofi Tata Ruang Kota Yogyakarta

gukseta

Kraton Yogyakarta yang merupakan cikal bakal kota Yogyakarta didirikan oleh R.M. Sujono, yang bergelar P.Mangkubumi, yang kemudian jumeneng nata (menjadi raja) dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono pada tahanun 1756 atau tahun Jawa 1682.

Pembangunan ini ditandai dengan condrosengkolo memet dipintu gerbang Kemagangan da dipintu gerbang Gedung Mlati, berupa dua ekor naga berlilitan satu sama lainnya. Dalam bahasa Jawa “Dwi naga rasa tunggal”, Artinya: Dwi = 2, naga = 8, rasa = 6, tunggal =1. Dibaca dari belakang menjadi 1682.

   

Konsepsi Kosmo Filosofi Kraton

gukseta

Secara Umum Karaton Yogyakarta adalah bagian dari mata Rantai kesinambungan pembangunan karaton-karaton di Jawa sehingga terdapat satu keterkaitan Tipologis yang mengaitkan Karaton Yogyakarta dengan tata Fisik Karaton Jawa sebelumnya bahkan pada skala yang lebih makro terdapat kaitan tipologis dengan istana-istana di Asia Tenggara dari kurun sebelumnya. Kesamaam tipologi ini terjadi karena latar belakang presepsi kosmologi yang sama, mewarisi tradisi Hindu tentang Jagad Purana yang berpusat pada suatu benua bundar Jambudwipa yang dikelilingi tujuan lapis daratan dan samudera. Pada Benua terdapat gunung Mahameru tempat para dewa bersemayam.

Untuk menjaga keselarasan jagad, maka lingkungan binaanpun disusun secara konsentrik, membentuk istana sebagai replika jagad tersebut. Gambar Jagad Purana, Jambu dwipa Dalam tatanan ini kedudukan titik pusat sangatlah dominan, sebagai penjaga kesetabilan keseluruhan tatanan. Pada skala negara tatanan memusat terwujud dalam kota yang berpusat pada Kuthagara yang dikelilingi Negara Agung, Mancanegara dan Pesisiran pada lingkaran terluar Dengan luas 1,3 km2 , kraton dibagi menjadi 7 bagian, sesuai dengan anggapan yang diwarisi dari agama Hindu , bahwa angka 7 merupakan angka yang sempurna.

   

Kearifan Jawa dan Keseimbangan Alam

gukseta
Oleh Whani Darmawan

Hidup bersama alam dewasa ini hanya sekadar gaya hidup. Bukan cara hidup. Ketika kemudian kita dihadapkan pada bencana lingkungan, tanah longsor, banjir, gunung meletus, tiba-tiba tema itu pun muncul kembali. Sayangnya, semakin sering disuarakan semakin kosong pula maknanya dalam realitas kehidupan.

Hidup bersama alam sekarang ini hanya menjadi eksotika komoditas wisata. Padahal, esensi yang dimaksudkan dalam kehidupan modern sekarang ini bahwa manusia adalah bagian dari alam yang saling menerima dan memberi (secara riil) supaya membentuk harmoni hingga bisa saling menjaga.
   

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

Topik Forum Terbaru

asdasda
tomplee 16-02-10 10:31
asdasd
tomplee 13-01-10 07:26
Re: Website TDA Jogja
admin 06-01-10 01:16
Re: Website TDA Jogja
lomockotive 23-12-09 11:58
Re:Website TDA Jogja
seta_pm 09-12-09 10:32

Kolom Mas Moe

  • 1
  • 2
  • 3

Polling bulan ini

Bagian bisnis yang paling Anda sukai?

Login Form