Jumat, 30 Juli 2010
   
TEXT_SIZE

Site Search powered by Ajax

Kebangkitan Dan Pesaingan Industri Batik Kontemporer

riyantosuwito

Sudah menjadi sebuah tradisi bahwa ketika sebuah industri bangkit atau akan mulai tumbuh kembali selalu ditandai dengan kemunculan kembali para pemain lama atau tumbuhnya pemain baru yang turut mencoba peruntungan dari kebangkitan tersebut.

Seiring dengan kebangkitan nasionalisme dalam budaya –- setidaknya karena beberapa kali terusik oleh Malaysia –- seperti ada angin segar bagi industri berbasis budaya dan etnik di Indonesia, dan salah satunya adalah batik. Tentu bukan sekedar klaim belaka, karena Oktober 2009 yang lalu Indonesia baru saja mendapatkan pengakuan sebagai pewaris sah budaya batik – terlepas dari beragam kontroversi yang ada.

Masalah mulai muncul ketika semua orang ingin turut berpartisipasi dalam mengembangkan dan mengembalikan kejayaan batik sebagai warisan budaya adiluhung – dan tentu saja bagi para pengusaha caranya adalah dengan turut berusaha dan mengusahakan batik – agar dapat kembali diterima pasar khususnya di tingkat lokal atau bangsa sendiri.

Namun siapa sangka justru karena kesadaran bersama ini kemudian memunculkan masalah persaingan yang cukup ketat – meski belum sampai mengarah pada persaingan tidak sehat. Ada banyak pengusaha muda yang terjun dalam bisnis batik dengan beragam versi dan penawaran. Di satu sisi ini akan bisa membentuk kembali pasar local yang selama ini terpecah atau koyak oleh produk pakaian lainnya – meski harus diakui eksistensi batik dalam segmen tertentu masih langgeng.

Contohnya, meski dulu belum ada pengakuan internasional soal batik atau ribut-ribut dengan negeri tetangga - toh di Jawa (khususnya) kita akan selalu menemukan batik pada saat resepesi pernikahan atau upacara-upacara dan acara resmi baik swasta maupun instansi pemerintah. Dan industri batik tetap bertahan – terutama yang menyasar segmen resmi tersebut – tapi memang pasarnya tidak terlalu berkembang.

Di sisi lain, munculnya banyak pemain baru akan membuat pasar semakin crowded dan persaingan menjadi tidak sehat. Tentu bukan salah anak-anak muda atau pengusaha baru tersebut jika mereka ingin turut andil dalam pelestarian budaya bangsanya. Masalahnya muncul karena masih kurangnya kreativitas bisnis dan pengetahuan serta praktik marketing yang baik.

Lho bukankah justru para pemain baru tersebut berlatar belakang pendidikan dan intelektual yang tinggi? Mereka juga pasti bukan orang yang buta pengetahuan marketing modern dan termasuk generasi yang sadar informasi dan bahkan up to date dalam informasi – termasuk soal bisnis. Bahkan mereka adalah generasi facebook dan twitter yang dengan lincah memanfaatkan media-media tersebut untuk mempromosikan bisnis dan produknya selain melalui weblog atau portal dan catalog online lainnya.

Benar sekali, bahwa ada fenomena munculnya pengusaha muda berbasis intelektual (baca: lulusan pendidikan tinggi) yang turut meramaikan pasar – termasuk industri perbatikan ini. Akan tetapi, persoalan pemasaran bukan semata-mata masalah intelektualisme belaka. Inilah yang menjelaskan mengapa tidak semua pemain baru tersebut bisa bermain cantik dalam memasarkan produknya. Kalaupun bisa bermain cantik, belum tentu mendapatkan hasil penjualan yang baik dan menguntungkan.

Seperti sudah disinggung diatas, bahwa masalahnya kreativitas dan praktik marketing tidak berjalan dengan baik. Mengapa? Karena mereka umumnya memulai usaha kecil-kecilan dengan tenaga sendiri dan dibantu tenaga produksi sedangkan marketing atau pemasaran produknya menjadi tanggung jawab si pengusaha alias si pemilik tadi.

Di sinilah dilema yang harus dihadapi seorang pengusaha kecil, dimana ia harus bertanggung jawab atas seluruh operasi usahanya termasuk pemasaran dan pengembangan produknya. Dua hal terakhir adalah persolan yang tidak bisa dianggap ringan kalau tidak mau disebut berat.

Contohnya, ada seorang teman pengusaha batik yang menyadari bahwa selama setahun lebih tidak membuat desain dan produk baru. Di sisi lain ada teman pengusaha yang masih belum tahu persis siapa sebenarnya target pelanggannya. Dan juga tidak salah ketika promosi yang dijalankan bersifat umum dan tidak menyasar kalangan tertentu.

Disinilah perlunya asistensi dari pihak lain, baik secara professional maupun secara kekeluargaan. Secara kekeluargaan dan pertemanan misalnya saja melalui forum diskusi, baik melalui media off line maupun on line yang saat ini sudah sangat terjangkau oleh banyak kalangan. Atau bertumbuhnya berbagai organisasi atau komunitas pengusaha kecil seyogyanya bisa semakin meningkatkan kapasitas dan memberdayakan anggotanya – contohnya seperti TDA Jogaj. Sedangkan secara professional bisa saja dengan menyewa konsultan manajemen atau konsultan marketing.

Pilihan terakhir ini memang sulit, karena harus mengeluarkan biaya tambahan yang otomatis membebani bisnis yang baru saja tumbuh tersebut – tetapi ini bisa di kapitalisasi menjadi investasi jangka panjang atau intangible asset perusahaan. Dan memang seharusnya diperlakukan demikian, bukan dianggap sebagai biaya yang langsung dibebankan dalam satu periode laporan keuangan saja.

Dan yang terpenting, semua pengusaha yang bermaksud baik tersebut tidak harus terjebak dalam persaingan yang tidak sehat apalagi sampai berdarah-darah. Kalau hal ini (persaingan tidak sehat) mestinya bukan suatu warisan budaya yang patut dilestarikan bukan..?!

Polling bulan ini

Bagian bisnis yang paling Anda sukai?

Login Form