Jumat, 30 Juli 2010
   
TEXT_SIZE

Site Search powered by Ajax

Cost Sharing biaya Konsultan Bagi Bisnis Kecil – Mungkinkah?

riyantosuwito

Kalau soal motivasi dan semangat wirausaha kebanyakan pengusaha sudah memilikinya – dan bahkan seringkali sudah bersifat intrinsik – alias merupakan nilai dari dalam. Hanya pada saat tertentu saja mereka betul-betul membutuhkan dorongan dari luar – yaitu ketika benar-benar sedang down. Lantas hal apa yang paling mereka butuhkan dalam rangka mengembangkan bisnisnya? Seringkali orang menjawab modal, baik tunai maupun alat produksi dan ada pula yang beranggapan bahwa yang terpenting adalah asistensi atau pendampingan dari konsultan bisnis.

Untuk perusahaan atau industri besar kebutuhan akan kehadiran konsultan sudah bukan hal yang baru lagi. Sudah sejak lama dan memang begitulah cara mereka bekerja. Disamping memiliki tim manajemen yang solid mereka juga masih diperlengkapi dengan konsultan top yang biasanya juga berharga mahal untuk memberikan saran terbaik bagi perusahaan.

Tetapi bagaimanakah halnya dengan usaha kecil? Tampaknya justru sebaliknya. Tim yang ada hanyalah pemilik yang biasanya sendiri atau suami-istri atau ada juga yang bermitra dengan beberapa teman, dibantu beberapa karyawan produksi. Kalau yang cukup beruntung biasanya memiliki bagian administrasi dan keuangan sehingga si pemilik focus pada pengembangan produk dan pemasarannya.

Yang lebih beruntung lagi, biasanya si pengusaha kecil adalah mantan pegawai pemasaran di perusahaan lain yang mengundurkan diri dan menjalankan usahanya sendiri. Minimal dia sudah berbekal ilmu yang didapat selama bekerja di tempat terdahulu. Meski pada akhirnya tantangan yang dihadapi tidak selalu sama dengan kondisi di perusahaan terdahulu – apalagi dengan adanya perbedaan posisi yang sangat jelas – jika dahulu sebagai pegawai maka sekarang sebagai pemilik yang bertanggung jawab sepenuhnya.

Padahal, pada kenyataannya bisnis besar atau kecil tetap saja bukan tanpa kendala. Bahkan ada seorang teman pengusaha di Jogja yang mengatakan pada saya – pada saat saya menawarkan investasi pada sebuah bisnis kecil – bahwa , “bisnis besar dan kecil perbedaannya cuma terletak pada hasilnya”. Maksudnya, bahwa tingkat permasalahan yang dihadapi sama memusingkan kepala dan menghabiskan waktunya, Cuma kalau usaha besar ada kemungkinan hasilnya lebih besar.

Saya tidak sepenuhnya membenarkan, tapi juga tidak bisa menyalahkan beliau. Karena faktanya, bisnis sekecil apapun selalu saja memiliki kendala dan masalah – bahkan memang seringkali lebih rumit – karena tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan si pengusaha. Lantas, apakah tidak ada konsultan yang bisa membantu memberikan saran dan rekomendasi strategi bagi bisnis kecil dalam menghadapi berbagai kendala dan tantangan bisnisnya. Jawabannya, ada! Tetapi kebanyakan dari konsultan ini hanya bekerja jika dipanggil dan dibayar oleh pihak ketiga untuk membantu sebuah atau sekelompok bisnis kecil.

Bukan berarti bahwa mereka tidak mau dipanggil jika diminta untuk membantu oleh pemilik bisnis kecil – tapi pada kenyataannya memang sangat jarang ada pemilik bisnis kecil yang memanfaatkan jasa para konsultan tersebut karena satu alasan – mereka tidak mampu membayar tenaga konsultan. Lha untuk menggaji pegawai saja mereka belum mampu! Begitu rata-rata alasan mereka.

Di samping ada juga beberapa pengsuaha kecil yang memang tidak percaya dengan konsultan bisnis dan sejenisnya – karena mereka menganggap orang-orang tersebut hanya pintar bicara atau hanya tahu teori saja tapi prakteknya nol besar. Jadi buat apa meminta saran dari mereka? Begitu alasan sebagian yang lain, tapi tidak akan kita bahas secara khusus pada tulisan ini.

Justru focus yang akan saya bicarakan dalam tulisan kali ini adalah para pengusaha kecil yang memiliki keinginan dan kesadaran membutuhkan pihak lain untuk membantu mengembangkan bisnis mereka – namun mereka merasa berat dengan ongkos yang harus dibayar. Artinya orang-orang atau pengusaha kecil yang sudah memiliki kesadaran tetapi belum siap dengan segala konsekuensinya – termasuk konsekuensi biaya yang bakal timbul.

Ada satu solusi yang bisa diambil yaitu, dengan cara berbagi ongkos atau biaya alias cost sharing. Maksudnya, dua orang pengusaha atau lebih menyewa seorang konsultan atau sebuah tim konsultan kemudian biayanya ditanggung bersama diantara mereka. Tentu saja porsinya disesuaikan dengan skala bisnisnya. Pertanyaannya kemudian, apakah si konsultan mau menerima?! Artinya dengan bertambahnya pekerjaan tetapi bayaran yang diterima sama atau sedikit lebih banyak? Jawabannya, menurut saya bisa dan mau. Syaratnya adalah, kelompok bisnis tersebut berasal dari jenis yang sama atau malah merupakan pesaing.

Mengapa demikian? Dengan menangani dua atau lebih usaha yang sejenis atau bahkan mungkin kompetitor maka konsultan akan bisa menggunakan data dari sumber yang ada tanpa perlu mencari – dalam hal ini yaitu data kompetitor – sehingga rekomendasi masing-masing akan lebih tepat karena bisa memposisikan (merekomendasikan positioning) masing-masing bisnis tersebut secara unik. Tentu saja ini membutuhkan keterbukaan dan semangat berkompetisi yang sehat. Dan biasanya yang seperti ini bisa berangkat dari anggota sebuah kelompok pengusaha, atau pengusaha kecil yang saling berteman di luar usahanya.

Jika perusahaan besar atau korporasi bisa melakukan co-branding, maka mestinya bisnis kecil juga bisa menirunya dan lebih jauh lagi melakukan cost-sharing untuk menghemat fee konsultan. Berbagi sesama pengusaha, mengapa tidak..?!

Polling bulan ini

Bagian bisnis yang paling Anda sukai?

Login Form