Trik Apply Kartu Kredit
Ditulis oleh Guk Seta
Saya coba sharingkan bagi yang belum punya kartu kredit…(buat yang sudah punya & jauh lebih berpengalaman bisa ditambahkan tulisan saya ini). FYI, Tulisan ini saya buat 2 tahun lalu di blog saya dan kemudian saya pindahkan ke web ini.
Sebetulnya saya baru saja ngeh fungsi fasilitas-fasilitas dari bank. Sebelumnya saya bisa dibilang anti bank karena saya tidak punya pengetahuan yang cukup soal bank. Pernah pinjam duit di lembaga keuangan tapi hanya pada sebuah institusi kecil seperti BPR, pegadaian dan koperasi untuk mengembangkan usaha. Jumlah pinjamannya tidak ada melebihi Rp 10.000.000,-
Nah, untuk fasilitas kartu kredit saya juga baru dapat pengetahuan setelah saya masuk komunitas TDA ini. Khususnya saya appreciate kepada James Sastrowijoyo yang banyak membuka mindset saya soal pinjaman bank.
Saya mulai paham perlunya kartu kredit setelah registrasi langganan Indosat 3,5 G yang mensyaratkan kepemilikan kartu kredit. Setelah itu saya menjumpai beberapa registrasi-registrasi lain yang juga mensyaratkan kartu kredit. Kesimpulan pribadi pun semakin kuat bahwa memiliki kartu kredit bagi seorang pebisnis adalah wajib dengan melihat tren saat ini dan dihubungkan dengan kebutuhan bisnis saya.
Apalagi jika ingin betul-betul mengembangkan bisnis di dunia internet, sulit rasanya kalau tidak memiliki kartu kredit. Belum lagi bagi yang pedagang, fungsi kartu kredit itu lumayan besar. Ada penundaan pembayaran sampai waktu jatuh tempo dimana penundaan pembayaran itu bisa digunakan untuk ‘memutarkan’ duit tersebut.
Yen tak pikir-pikir, saya itu orangnya iseng banget. Saking pengennya tahu apa yang diomongin rekan-rekan itu benar ato nggak soal kartu kredit, saya coba register kartu kredit di 5 bank: BCA, BII, Bukopin, Mega dan Mandiri. Dan registrasi awal saya dengan sukses ditolak semua. Ya, karena saya iseng antara bank yang satu dengan bank yang lain saya tulis informasi yang berbeda. Seperti soal alamat dan nomer telpon.
Sebelumnya saya dibilangin kalo BCA itu termasuk salah satu yang paling sulit persyaratannya untuk aplikasi kartu kredit. Wah, jadi penasaran. Saya coba registrasi untuk yang kedua kalinya dan sukses ditolak juga. Setelah saya amati, kesimpulan pribadi saya mengatakan bahwa faktor terpenting untuk registrasi kartu kredit bagi pengusaha (kalo pegawai cenderung lebih mudah) adalah jumlah saldo. Rapot Cash flow rekening yang bagus memang bisa buat kita ditawarkan oleh bank, tapi itu kan sekedar ditawarkan alias belum tentu di approved. Tapi kalo kita punya saldo yang cukup dan stabil dalam waktu sekitar 10-14 hari, ceritanya akan lain.
Penilaian karakter tidak memainkan peranan penting dalam aplikasi kartu kredit. Jadi ini sangat berbeda dengan pinjaman bank macam KTA, KKB, KPR dll. Karena biasanya verifikasi hanya via telpon. Ada sih analisis yang datang, dari bank Mega. Tapi itu sekedar ngecek alamat dan ngisi ulang questioner.
Yang jelas, setelah aplikasi ke-7 kalinya saya baru dapat approval dari Bank BCA. Keyakinan bakal di approved (dengan status pengusaha, bukan dengan bantuan ‘surat keterangan’ karyawan) sebenernya sederhana sekali. Kalo KTA Danamon saya saja diterima (waktu itu bisa dapat plafon maksimal Rp 50jt), kenapa kartu kredit tidak. Jadi hal itu yang bikin saya gak perduli berapa kali pun aplikasi kartu kredit saya di reject, saya tetep coba terus dengan cari sebab di reject sebelumnya.
Yah, kira-kira itu sekelumit sharing pengalaman dan kesimpulan pribadi saya. Karena sifatnya sharing pribadi, bisa jadi salah dan berbeda kesimpulan dengan yang lain. Yang jelas, tren transaksi bisnis di Indonesia (apalagi internet) sudah berkembang pesat kearah kartu kredit.
Namun seperti slogan Pajak : Bayar tagihannya, awasi penggunaannya.

Bergabung bersama TDA Jogja
Comments
Quoting agus:
RSS feed for comments to this post.