Jumat, 30 Juli 2010
   
TEXT_SIZE

Site Search powered by Ajax

Kearifan Jawa dan Keseimbangan Alam

gukseta
Oleh Whani Darmawan

Hidup bersama alam dewasa ini hanya sekadar gaya hidup. Bukan cara hidup. Ketika kemudian kita dihadapkan pada bencana lingkungan, tanah longsor, banjir, gunung meletus, tiba-tiba tema itu pun muncul kembali. Sayangnya, semakin sering disuarakan semakin kosong pula maknanya dalam realitas kehidupan.

Hidup bersama alam sekarang ini hanya menjadi eksotika komoditas wisata. Padahal, esensi yang dimaksudkan dalam kehidupan modern sekarang ini bahwa manusia adalah bagian dari alam yang saling menerima dan memberi (secara riil) supaya membentuk harmoni hingga bisa saling menjaga.

Benarkah antara manusia dan alam bisa saling menerima dan memberi secara riil? Lantas bagaimana cara kerja take-give manusia dengan alam?

Ada beberapa teori tentang keberadaan manusia, yang dari segi apa pun sebenarnya bisa digunakan sebagai pembenaran akan kebersatuan dirinya dengan alam. Secara bible(is) manusia diciptakan dari debu oleh kuasa Allah. Dan, karena ia disabda dari ruh Allah, maka sebagian dari citra Tuhan pun ada di sana. Kemuliaan cipta, rasa, karsa bersemayam dalam diri manusia. Dari kacamata fisika, manusia dicipta oleh suatu kekuatan energi yang secara evolutif mengalami penyempurnaan.

Sementara dalam tradisi I Ching dikatakan, di dalam diri manusia (organ tubuh maupun abstraksi energikal di dalam dirinya) terkandung unsur-unsur alam: api, air, angin, kayu, logam. Itu sebabnya fengshui, yakni keselarasan hidup manusia bersama alam, selalu bertimbang pada hal-hal ini untuk menyelaraskan pergerakan hidup secara holistik bersama semesta (di mana manusia dan alam bagian yang tak terpisahkan dan bahkan saling membantu).

Bersamaan dengan itu, lahirlah sistem kebudayaan manusia yang menciptakan struktur pemikiran dan cara hidup, yang mampu menciptakan kearifan nilai akan keberadaan dirinya bersama alam. Secara teologis, secara fisikal, metafisikal, biologikal manusia menemukan otentisitasnya bahwa dirinya bagian dari organisme besar bernama alam, karenanya harus bergerak secara harmoni bersamanya. Jika tidak, satu dengan yang lain akan saling merugikan sebagaimana keberadaan antara darah putih dengan darah merah dalam metabolisme tubuh manusia.

Sistem budaya

Kejawen adalah sistem budaya manusia Jawa, yakni tentang kebiasaan hidup. Sebagai suatu sistem yang sudah lama dan menjelma menjadi kebudayaan, kejawen memiliki suatu tatanan holistik dalam mengatur kehidupan. Hal ini bisa dilihat dari lahirnya sistem penanggalan yang lengkap dengan keterangan-keterangan astronomis untuk acuan musim yang berguna pada penerapan pertanian, termasuk sistem upacara spiritual.

Ciri kecil dari aplikasi konsepsi kejawen tentang manusia dan alam bisa dilihat dari banyaknya unsur tembung (ucapan permohonan/mantera) dalam setiap aktivitas hidup. Secara ideal- konsepsional tembung inilah yang nantinya akan menjadi tembang. Secara umum orang hanya tahu bahwa tembang itu berarti lagi, namun sesungguhnya secara ideal tembang lebih mengandung arti yakni tembung yang ditata sedemikian rupa hingga menjadi indah yang bermakna sebagai permohonan atau ucapan etik permisif.

Itu sebabnya tembang sering mengandung makna sebagai doa dan dipakai sebagai suatu sarana dalam setiap upacara Jawa. Sinergis, fungsional, dan sekaligus metaforik dengan pemaknaan maupun estetikanya, tembang kemudian dalam bahasa halus Jawa (krama) disebut sebagai sekar, yang dalam bahasa yang sama dalam pengertian lain juga bermakna sebagai bunga. Jadi tembung adalah permohonan/doa yang dilantunkan secara indah, seindah dan seharum persembahan bunga (sekar). Namun, sekali lagi, banyak orang melihat hal ini sebagai suatu sensasi upacara, padahal secara esensial aplikatif pengertian dasarnya adalah tembung itu sendiri. Berbicara kepada "sesaudara" sebagai bagian dari alam karena kita membutuhkan bantuannya.

Misalnya, perhitungan hari dalam memotong bambu untuk kepentingan pembangunan rumah, pada hari kelahiran (neton), dan sebagainya. Sikap dan keputusan yang diambil manusia Jawa itu mencerminkan penghargaan mereka kepada alam bahwa segala sesuatu memiliki kekuatan energi yang perlu diselaraskan dengan dirinya. Mereka percaya, sebagaimana juga Tao, apabila alam dikaruhke (disayang/diperhatikan) mereka akan berbalik membantu segala cita- cita manusia. Hal itu menandakan, manusia Jawa bertindak struktural dan "teknologis". Sayangnya justru dikutuki sebagai klenik. Bersamaan dengan tuduhan itu ternyata pemikiran-pemikiran modern yang tidak ramah lingkungan justru tak sengaja memajang dirinya sebagai klenik; hidup dalam wacana, paradigma, argumen, konsep, sementara membumikannya dalam hidup sehari-hari menjadi sesuatu yang split, bahkan hampir mustahil. Sungguh sesuatu yang terbalik. Siapakah di antara Jawa dan pemikiran modern yang kasunyatan dan yang klenik?

Gunung Merapi menunggu hari. Usia magma itu telah tua. Metabolisme "tubuhnya" sudah harus di-refresh. Sekarang dengan bantuan teknologi orang sudah menghitung hari. Teknologi memang salah satu bukti verbal pencapaian kepandaian manusia. Patut dihargai. Tetapi, yang menghibakan sebenarnya manusia kini tak lagi memiliki rasa asih terhadap alam yang berarti dirinya sendiri. Sudah jarang terjadi dialog secara rill dalam kehidupan sehari-hari dengan alam. Bahkan, sampai pada hal yang remeh sekalipun. Mungkin salah satu sebabnya adalah budaya hidup konsumtif, di mana semua hal membeli tak mencerdaskan seseorang dan tak mendidik ke arah tindakan yang reproduktif dan kreatif. Manusia jadi cenderung menggampangkan, dan seluruh dasar pijakan cara berpikimya kapitalistik. Semua diukur dengan uang. Alam tak lagi dihargai dan dihormati.

Polling bulan ini

Bagian bisnis yang paling Anda sukai?

Login Form